sudahlah kawan


jangan kau pikirkan negeri ini kawan…..
terlalu berat…….
seperti mengangkat gerbong kereta api sendirian

Advertisements

sesal


sesal

maafkan aku ayah
aku tak dapat seperti banyak orang inginkan
aku masih seperti ini
berkabut kehitaman pada masa depan yang tidak jelas
seperti itu kata orang lain

teringat pesanmu waktu itu
pesan dalam sedang berat nafasmu
aku hanya mengingat dalam kenangan
kenangan waktu itu

sosokmu selalu ada dalam hatiku
walaupun aku tak lama mengenalmu
sosok yang sederhana
sosok yang tidak memandang materi sebagai lambang kesuksesan

aku memang tak seperti anak anakmu yang lain
walapun aku tahu
engkau dulu pernah mengharapkan ku
mungkin harapan itu masih jauh dari angan angan

setidaknya engkau tekankan
kejujuran dalam hidup
entah mengapa ayah
kejujuran sekarang menjadi barang yang dusta
seakan jujur itu adalah suatu kehinaan
yang membuat hidup ini menjadi kesuraman

entah mengapa ayah
aku merasa sesal
sampai hari ini

semoga suatu hari nanti….

malam ini kudengar salah satu lagu kesukaan mu
Di matamu masih tersimpan
Selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat
Di keningmu
Kau nampak tua dan lelah
Keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah
Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Ayah dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

sepenggal lagu dari Ebiet Ghoffar Aboe Dja’far – titip rindu buat Ayah

-10 tahun dalam kenangan anakmu-ayah-