Protected: Terlelap dalam lamunan


This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

[foto pekan itu] Kalimalang Punya Cerita


Festival Kalimalang 2009

Entah kapan acara ini dikatakan suatu festival. Tapi memang dari tahun ketahun dalam rangka menyambut dirgahayu Republik ini, kalimalang selalu menhadirkan acara acara hiburan perlombaan seperti panjat pinang gebuk bantal dan sebagainya yang di modifikasi sedemikian rupa hingga faktor ”Kali” yang berakibat ”Malang” selalu ada. Dari faktor tersebut dapat dipastikan aksi yang akan terjadi adalah ”kecebur” di kalimalang.

Bagi masyarakat sekitar, hiburan ini sejenak melupakan kerasnya hidup dijakarta dan keruhnya kalimalang yang sungguh malang nasibnya. Tawa yang lepas, ekspresi kekecewaan yang muncul, tepuk tangan yang ikhlas, dan celetukan celetukan yang spontan konon menyemarakan tradisi ini. Hadiah hadiah yang ditawarkan cukup beragam, walaupun tidak menjanjikan hal yang besar, seperti Rumah tipe 36 atau mobil Toyota, peserta cukup antusias dan memiliki semangat juang yang tinggi. Cukup diyakini bukan faktor hadiah yang membuat mereka seperti itu, faktor gengsi, dukungan moral, dan harga diri konon juga menyemarakan acara ini. Yang pasti masyarakat cukup terhibur dengan acara yang memang gratis ini. Ya itu lah sisi lain kali malang dimana dalam satu hari kali ini benar benar jauh dari malang.

Continue reading “[foto pekan itu] Kalimalang Punya Cerita”

40 days in Europe


40 days in Europe, buku yang telah mengendap lama di kamar sayah.., ”baru keniatan” bacanya…..

Sebuah karya dari Maulana M. Syuhada yang didasari oleh pengalaman nyata hari hari di Eropa bersama Team KPA SMA 3 Bandung. Buku yang cukup mengalir, bercerita apa adanya (memang kisah nyata yang diceritakan), mulai dari keseharian Kang Maul (begitu panggilannya) sehari hari hidup sebagai mahasiswa di Universitaet Hamburg-Harburg sebagai master Di bidang manajemane produksi, dilanjutkan perburuan kota kota tempat tampil berikut festival yang akan diikuti, sampai dengan ”40 Days in Europe itu sendiri”

Continue reading “40 days in Europe”

[Foto Pekan Itu] Sang Penjual Sangsaka


Ara koswara (23), pedagang sangsaka merah putih, sedang merapihkan deretan bendera dagangannya yang dijual Rp.5000 sampai dengan Rp.75.000, Jalan Latuharhari SH, Jakarta pusat, Minggu (09/08), Pria asal Desa Leles, Garut, Jawa barat ini telah berdagang bendera sejak tahun 2003 dikota kota besar indonesia. Menurut pemuda ini, kebanyakan warga didesanya berkutat dengan bendera merah putih setiap tahunnya untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI.

“Untuk memeriahkan kemerdekaan 17 Agustus”, singkat jawab Ara Koswara (23) perihal mengapa dirinya berdagang bendera merah putih. Pekerjaan musiman berdagang bendera merah pituh lazim disaat saat menjelang ulang tahun kemerdekan Repubilk Indonesia. Pria asli garut ini yang sehari hari nya berdagang dipasar menyempatkan waktunya mengadu nasib ke Jakarta untuk berdagang bendera setiap menjelang 17 Agustus. Baginya dia tidak sendiri, bersama kesepuluh temannya yang berprofesi sama dengannya hidup mengontrak dijakarta ini. Sejak 1 Agustus Ara bertengger di Jalan Latuharhari Menteng Jakarta pusat, tepat disamping rumah kediaman pahlawan revolusi, A Yani. Dibawah pohon yang rindang dan nyaman ini, Kang Ara menjejer bendera merah putih dari segala macam ukuran dan bentuk.
Kang Ara yang sudah berjualan dari tahun 2003 ini sudah berlalang buana mengadu nasib di kota kota indonesia lainnya. Konon Jakarta, Poso, Surabaya, sampai Timika merupakan tempat perantauannya sejak beberapa tahun yang lalu. Bukan hal yang aneh baginya berdagang bendera, sebab menurutnya desa kelahirannya Desa Leles, Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat merupakan penghasil bendera merah putih. Dan bagi dirinya dan sebagian penduduk desa nya selain memproduksi bendera, warga desa leles lainnya ikut andil untuk perdagangan bendera tersebut. Karakteristik yang khas dari pedagang bendera Desa Leles menurut kang Ara adalah selalu membuka lapak di pinggir jalan, tidak berkeliling. ”Kalo yang didorong itu mah pasti orang cirebon mas, kalo orang garut pasti dijejerin kaya gini”, cetusnya.
Harga yang ditawarkan cukup beragam, untuk bendera ukuran paling besar 75 Ribu disusul dengan ukuran sedang Rp.12.500, dan ukuran mini yang sering digunakan dispion-spion kendaraan berharga 5 Ribu Rupiah. Harga yang dipatok pun masih bisa ditawar, konon pada masa dulu dengan penghasilan yang cukup besar menurutnya, ”kalo dulu mah bisa laku 1000 mas, dan itu sudah bisa ngak kerja setahun”, kenangnnya. Tapi dikarenakan daya beli masyarakat yang kurang, penjualan bendera pun menurun cukup signifikan, terkadang menurutnya jikalau barang tidak habis, tanggal 13 Agustus pun sudah kembali ke kampung halamannya.

Continue reading “[Foto Pekan Itu] Sang Penjual Sangsaka”